Sabtu, 12 Agustus 2017

Bab I (kuantitatif)

 

     Langkah-langkah Penelitian Kuantitatif pada Bab I
      1. Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi  dilakukannya penelitian, apa hal yang menarik untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan antara kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian peneliti sebelumnya. Secara rinci latar belakang (Wardi Bachtiar:1997) berisi:
a.    Argumentasi mengapa masalah tersebut menarik untuk diteliti dipandang dari bidang keilmuan/maupun kebutuhan praktis.
b.    Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut tidak dipecahkan.
c.    Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil penelitian 
d.   Penjelasan bahwa masalah  tersebut relevan, aktual  dan sesuai dengan situasi dan kebutuhan zaman
e.    Relevansinya dengna penelitian-penelitian sebelumnya
f.     Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi masyarakat atau negara dan bagi perkembangan ilmu
2.Identifikasi,pemilihan dan perumusan masalah
a.    Identifikasi Masalah
           Masalah penelitian dapat diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dan              apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori dan sebagainya.
b. Pemilihan Masalah
1). Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan dapat diuji)
2). Fisible (biaya, waktu dan kondisi)
3). Sesuai dengan kualifikasi peneliti
4). Menghubungkan dua variabel atau lebih  (Nazir: 1988)
c.    Sumber Masalah
Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian terdahulu, dan lain-lain.
d.   Perumusan Masalah 
1). Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2). Jelas dan padat
3).  Dapat menjadi dasar dalam merumusan hipotesa dan judul penelitian
Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, suatu masalah dapat dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya. Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.
Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu sebagai berikut :
1)      Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan penguraian tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara gejala satu dengan gejala lainnya.
2)      Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti dua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya. Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga dapat menantang pemikiran lebih jauh.
3)   Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian lebih lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan antargejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur (Ace Suryadi: 2000). 
e. Perumusan, Tujuan dan manfaat Penelitian
1)  Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa yang akan kita cari/ capai dari masalah penelitian. Cara merumuskan yang paling mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi kalimat pernyataan.
2)  Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan praktis (Arikunto:1992).
f. Telaah Pustaka
1)      Manfaat Telaah Pustaka
2)      Untuk memperdalam  pengetahuan tentang masalah yang diteliti
3)      Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran
4)      Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesa
5)      Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian 
Contoh Bab I:
       PENDAHULUAN
  A.    LATAR BELAKANG
Wali Kelas adalah Guru yang membantu Kepala Sekolah untuk membimbing siswa dalam mewujudkan disiplin kelas, sebagai manajer dan motivator untuk membangkitkan gairah /minat siswa  untuk beprestasi di kelas. Selain itu tugas dan tanggung jawab  seorang guru wali kelas juga  mengelola pengajaran agar menjadi efektif, dinamis, efisien, dan positif yang ditandai dengan adanya keterlibatan aktif antara guru dan peserta didik. Setiawati mengatakan, “Cara mengajar yang kurang menarik dapat membosankan peserta didik. Bila guru tidak dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar, tidak heranlah kalau prestasi belajar mereka menjadi turun.
Wali kelas harusnya adalah seorang motivator hebat, ia harus mengetahui kelemahan sekaligus kelebihan masing-masing siswanya sehingga walikelas mampu mengarahkan siswa sesuai dengan kemampuannya atau bahkan bisa mengoptimalkan semua potensi-potensi siswanya. Sebagai seorang wali kelas maka ia wajib menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya, the rightman on the right place and job dan menetapkan kerjasama tim sebagai bagian integral dari proses pendidikan. Walikelas harus berfungsi sebagai sahabat yang baik bagi siswanya, mampu memberikan solusi dan juga memberikan arahan arahan untuk kemajuan siswa. Wali kelas mampu membaca situasi dan kondisi yang sedang ia hadapi, ia bisa merasakan apa yang siswa rasakan dan kemudian memberikan nasehat dan solusi yang jitu dalam menghadapi masalah siswa.
Komunikasi yang baik antara guru wali kelas dan murid akan berdampak besar dengan prestasi belajar para murid. Komunikasi interpersonal akan mempererat hubungan antara wali kelas dengan siswa, sehingga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, baik pada saat di dalam maupun di luar kelas. Dalam pembelajaran diperlukan sebuah komunikasi yang mampu mendorong serta mengarahkan siswa pada tujuan pembelajaran, karena itu perlu adanya penciptaan komunikasi yang mampu merangsang siswa untuk berinteraksi, mengajak, dan mempengaruhi siswa, sehingga motivasi belajar akan muncul dari dalam diri siswa itu sendiri. Dengan demikian seorang wali kelas mempunyai peran yang besar dalam memberikan motivasi kepada siswanya. Komunikasi yang positif akan berdampak pada peningkatan prestai belajar. Wali kelas yang menempatkan diri sebagai seorang sahabat akan membuat siswa merasa dekat dan nyaman. Kedekatan dan rasa nyaman ini sungguh penting kaitannya dengan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Siswa yang merasakan hubungan dengan wali kelasnya dekat dan penuh persahabatan akan merasakan bahwa belajar di sekolah sangat menyenangkan.
Prestasi belajar merupakan ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya. Prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. (Ngalim, Mengembangkan Prestasi Belajar 1988:85-87). Jadi prestasi belajar berfokus pada nilai atau angka yang dicapai dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut dinilai dari segi kognitif karena guru sering memakainya untuk melihat penguasaan pengetahuan sebagai pencapaian hasil belajar siswa. Komunikasi yang positif akan menghasilkan tercipta kondisi dimana secara psikologi anak didik merasa aman selama menjalani proses belajar di sekolah, aman dari ejekan, sindiran, perlakuan yang membuat anak secara psikologis menjadi terancam. Selain itu akan tercipta kondisi kebebasan secara psikologis bagi anak, anak bebas dalam mengekspresikan setiap kemampuannya. Tindakan yang dilakukan setiap anak pasti memiliki maksud dan menyimpan rahasianya sendiri, untuk itu guru harus bisa menganalisanya. Akhirnya tercipta kondisi yang menumbuhkan semangat untuk berprestasi dan mengaktualisasikan diri, bagi setiap bakat yang dimiliki anak didik. Perilaku guru wali merupakan  salah  satu  faktor  yang  berperan  dalam  memotivasi  semangat  belajar  para peserta  didik.  Suatu  kondisi  yang  menyenangkan  apabila  guru  wali  dapat  menunjukkan sikap yang akrab, bersahabat dan memahami situasi di dalam kelas saat mengajar dan saat ia  di  luar  kelas.  Perilaku  guru  seperti  itu  dapat  menunjang  prestasi  belajar  siswa.
Berdasarkan fakta yang ada, masih ditemukan bahwa beberapa guru SMPN 8 Surakarta belum sepenuhnya   memotivasi   siswa- siswinya   karena   kurangnya   komunikasi   antarpribadi   yang  dilakukan oleh guru wali dan muridnya. Komunikasi antarpribadi yang dilakukan guru dan murid  akan  sangat  menunjang  kegiatan  belajar  mengajar  disekolah. Komunukasi guru dan murid kurang harmonis, sehingga terdapat kesalahpahaman antar guru dengan peserta didik. Hal ini berdampak pada hasil belajar yang menurun. Dari  hasil  penelitian  mengenai  proses  komunkasi  yang  telah  dilakukan  oleh  guru wali  dan  siswanya  itu  dapat  di  ketahui  bahwa  mereka  dominan  menggunakan  Oral
Communication  atau  bisa  disebut  berkomunikasi  dengan  mulut.  Namun  dalam  proses belajar mengajar  untuk  meningkatkan  pengetahuan  anak  didik  mereka  masing- masing dapat dibedakan proses komunikasi yang mereka lakukan antara bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal. Dari keseluruhan guru atau pengajar yang diteliti oleh peneliti bahwa para  pengajar  lebih  banyak  menggunakan  komunikasi  verbal  dan  diselingi  juga  oleh komunikasi  nonverbal.  Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengambil judul skripsi ”Pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta.”
        B.  Identifikasi Masalah
      Berdasarkan Latar Belakang Masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
a.   Beberapa guru SMPN 8 Surakarta belum sepenuhnya memotivasi   siswa- siswinya didalam belajar.
b.      Kurangnya   komunikasi   antarpribadi   yang  dilakukan oleh guru wali dan muridnya di SMPN 8 Surakarta.
c.   Komunikasi guru dan murid kurang harmonis, sehingga terdapat kesalahpahaman antar guru dengan peserta didik.
d.   Menurunnya pretasi belajar siswa SMPN 8 Surakarta yang disebabkan karena guru kurang memberikan motivasi belajar terhadap muridnya
e.       Ada oknum wali kelas yang acuh tak acuh terhadap perkembangan belajar dan masalah murid dalam kelas.
f.    Adanya konflik antar guru wali kelas dengan murid yang tidak terselesaikan, sehingga sangat mempengaruhi semangat belajar siswa.
g.      Kurangnya pemahaman pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta.
      C. Batasan Masalah
a.         Komunikasi guru dan murid kurang harmonis, sehingga terdapat kesalahpahaman antar guru                          dengan peserta didik.
b.         Menurunnya pretasi belajar siswa di SMPN 8 Surakarta
c.        Kurangnya pemahaman pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8                                     Surakarta.    
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana komunikasi guru dan murid di SMPN 8 Surakarta?
2.      Bagaimana pretasi belajar siswa di SMPN 8 Surakarta?
3.      Bagaimana pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mencapai tujuan yang berkaitan dengan permasalahan yang telah dirumuskan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapat gambaran tentang :
1.      Bagaimana komunikasi guru dan murid di SMPN 8 Surakarta?
2.      Bagaimana pretasi belajar siswa di SMPN 8 Surakarta?
3.      Bagaimana pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat yang diharapkan oleh penulis dalam penelitian ini adalah
1.  Bagi Peneliti
Dengan penelitian ini, penulis mendapat wacana yang baru  mengenai pengaruh komunikasi guru                    terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta. 
2.    Bagi Sekolah
    Penelitian ini memberi wacana  bagi Sekolah dalam peningkatan mutu belajar secara khusus pengaruh           komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta
3.      Bagi Akademisi
    Bagi akademis dapat menjadi suatu referensi yang bermanfaat  untuk penelitian-penelitian selanjutnya       terkait dengan pengaruh komunikasi guru terhadap peningkatan  prestasi siswa di Sekolah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menghitung Korelasi pearson product dengan SPSS 21

         Bagi peneliti yang menggunakan pendekatan kuantitatif mungkin akan menjumpai beberapa alat bantu analisis baik berupa software ...