Langkah-langkah Penelitian Kuantitatif pada Bab I
1. Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah memuat hal-hal yang melatar belakangi dilakukannya penelitian, apa hal yang menarik
untuk melakukan penelitian biasanya karena adanya kesenjangan antara
kesenjangan antara yang seharusnya dan kenyataan. Dalam bagian ini dimuat
deskripsi singkat wilayah penelitian dan juga jika diperlukan hasil penelitian
peneliti sebelumnya. Secara rinci latar belakang (Wardi Bachtiar:1997) berisi:
a.
Argumentasi mengapa masalah tersebut menarik untuk
diteliti dipandang dari bidang keilmuan/maupun kebutuhan praktis.
b.
Penjelasan akibat-akibat negatif jika masalah tersebut
tidak dipecahkan.
c.
Penjelasan dampak positif yang timbul dari hasil-hasil
penelitian
d.
Penjelasan bahwa masalah tersebut relevan, aktual dan sesuai dengan situasi dan kebutuhan zaman
e.
Relevansinya dengna penelitian-penelitian sebelumnya
f.
Gambaran hasil penelitian dan manfaatnya bagi
masyarakat atau negara dan bagi perkembangan ilmu
2.Identifikasi,pemilihan dan perumusan masalah
a.
Identifikasi Masalah
Masalah penelitian dapat
diidentifikasi sebagai adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dan apa yang ada dalam kenyataan, adanya kesenjangan informasi atau teori dan
sebagainya.
b. Pemilihan Masalah
1). Mempunyai nilai penelitian (asli penting dan
dapat diuji)
2). Fisible (biaya, waktu dan kondisi)
3). Sesuai dengan kualifikasi peneliti
4). Menghubungkan dua variabel atau lebih
(Nazir: 1988)
c.
Sumber Masalah
Bacaan, seminar, diskusi, pengamatan, pengalaman, hasil penelitian
terdahulu, dan lain-lain.
d.
Perumusan Masalah
1). Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya
2). Jelas dan padat
3). Dapat menjadi dasar dalam
merumusan hipotesa dan judul penelitian
Selain dirumuskan dalam bentuk kalimat Tanya, suatu masalah dapat
dirumuskan dengan menggunakan kalimat berita. Keduanya sama baiknya akan tetapi
ada perbedaan dalam kemampuannya mengkomunikasikan pesan yang ada di dalamnya.
Kalimat berita lebih bersifat memberikan gambaran tentang karakteristik masalah
yang bersangkutan. Sedangkan kalimat tanya dapat lebih mengakibatkan adanya
tantangan untuk mengumpulkan informasi lebih lanjut.
Terlepas dari bentuk perumusan masalah yang digunakan, terdapat beberapa
kriteria yang dapat dipakai sebagai pegangan untuk merumuskan masalah, yaitu
sebagai berikut :
1)
Masalah yang dirumuskan harus mampu menggambarkan
penguraian tentang gejala-gejala yang dimilikinya dan bagaimana kaitan antara
gejala satu dengan gejala lainnya.
2)
Masalah harus dirumuskan secara jelas dan tidak berarti
dua, artinya tidak ada maksud lain yang terkandung selain bunyi masalahnya.
Rumusan masalah tersebut juga harus dapat menerangkan dirinya sendiri sehingga
tidak diperlukan keterangan lain untuk menjelaskannya. Masalah yang baik selalu
dilengkapi dengan rumusan yang utuh antara unsur sebab dan unsur akibat sehingga
dapat menantang pemikiran lebih jauh.
3) Masalah yang baik hendaknya dapat memancing pembuktian
lebih lanjut secara empiris. Suatu masalah tidak hanya menggambarkan hubungan
antargejala tetapi juga bagaimana gejala-gejala tersebut dapat diukur (Ace
Suryadi: 2000).
e. Perumusan, Tujuan dan manfaat Penelitian
1) Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang apa
yang akan kita cari/ capai dari masalah penelitian. Cara merumuskan yang paling
mudah adalah dengan mengubah kalimat pertanyaan dalam rumusan masalah menjadi
kalimat pernyataan.
2) Manfaat penelitian mencakup manfaat teoritis dan
praktis (Arikunto:1992).
f. Telaah Pustaka
1)
Manfaat Telaah Pustaka
2)
Untuk memperdalam
pengetahuan tentang masalah yang diteliti
3)
Menyusun kerangka teoritis yang menjadi landasan pemikiran
4)
Untuk mempertajam konsep yang digunakan sehingga
memudahkan perumusan hipotesa
5)
Untuk menghindari terjadinya pengulangan penelitian
Contoh Bab I:
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Wali Kelas adalah Guru
yang membantu Kepala Sekolah untuk membimbing siswa dalam mewujudkan disiplin
kelas, sebagai manajer dan motivator untuk membangkitkan gairah /minat
siswa untuk beprestasi di kelas. Selain
itu tugas dan tanggung jawab seorang
guru wali kelas juga mengelola
pengajaran agar menjadi efektif, dinamis, efisien, dan positif yang ditandai
dengan adanya keterlibatan aktif antara guru dan peserta didik. Setiawati
mengatakan, “Cara mengajar yang kurang menarik dapat membosankan peserta didik.
Bila guru tidak dapat membangkitkan minat dan motivasi belajar, tidak heranlah
kalau prestasi belajar mereka menjadi turun.
Wali kelas harusnya adalah
seorang motivator hebat, ia harus mengetahui kelemahan sekaligus kelebihan
masing-masing siswanya sehingga walikelas mampu mengarahkan siswa sesuai dengan
kemampuannya atau bahkan bisa mengoptimalkan semua potensi-potensi siswanya.
Sebagai seorang wali kelas maka ia wajib menempatkan siswa sesuai dengan
kemampuannya, the rightman on the right place and job dan menetapkan kerjasama
tim sebagai bagian integral dari proses pendidikan. Walikelas harus berfungsi
sebagai sahabat yang baik bagi siswanya, mampu memberikan solusi dan juga
memberikan arahan arahan untuk kemajuan siswa. Wali kelas mampu membaca situasi
dan kondisi yang sedang ia hadapi, ia bisa merasakan apa yang siswa rasakan dan
kemudian memberikan nasehat dan solusi yang jitu dalam menghadapi masalah
siswa.
Komunikasi yang baik
antara guru wali kelas dan murid akan berdampak besar dengan prestasi belajar
para murid. Komunikasi interpersonal akan mempererat hubungan antara wali kelas
dengan siswa, sehingga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran, baik pada
saat di dalam maupun di luar kelas. Dalam pembelajaran diperlukan sebuah
komunikasi yang mampu mendorong serta mengarahkan siswa pada tujuan
pembelajaran, karena itu perlu adanya penciptaan komunikasi yang mampu
merangsang siswa untuk berinteraksi, mengajak, dan mempengaruhi siswa, sehingga
motivasi belajar akan muncul dari dalam diri siswa itu sendiri. Dengan demikian
seorang wali kelas mempunyai peran yang besar dalam memberikan motivasi kepada
siswanya. Komunikasi yang positif akan berdampak pada peningkatan prestai
belajar. Wali kelas yang menempatkan diri sebagai seorang sahabat akan membuat
siswa merasa dekat dan nyaman. Kedekatan dan rasa nyaman ini sungguh penting
kaitannya dengan motivasi siswa dalam proses pembelajaran. Siswa yang merasakan
hubungan dengan wali kelasnya dekat dan penuh persahabatan akan merasakan bahwa
belajar di sekolah sangat menyenangkan.
Prestasi belajar merupakan
ukuran keberhasilan yang diperoleh siswa selama proses belajarnya. Prestasi
belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan
perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas
dalam belajar. (Ngalim, Mengembangkan
Prestasi Belajar 1988:85-87).
Jadi prestasi belajar berfokus pada nilai atau
angka yang dicapai dalam proses pembelajaran di sekolah. Nilai tersebut dinilai
dari segi kognitif karena guru sering memakainya untuk melihat penguasaan
pengetahuan sebagai pencapaian hasil belajar siswa. Komunikasi yang positif
akan menghasilkan tercipta kondisi dimana secara psikologi anak didik merasa
aman selama menjalani proses belajar di sekolah, aman dari ejekan, sindiran,
perlakuan yang membuat anak secara psikologis menjadi terancam. Selain itu akan
tercipta kondisi kebebasan secara psikologis bagi anak, anak bebas dalam
mengekspresikan setiap kemampuannya. Tindakan yang dilakukan setiap anak pasti
memiliki maksud dan menyimpan rahasianya sendiri, untuk itu guru harus bisa
menganalisanya. Akhirnya tercipta kondisi yang menumbuhkan semangat untuk
berprestasi dan mengaktualisasikan diri, bagi setiap bakat yang dimiliki anak
didik. Perilaku guru wali merupakan
salah satu faktor
yang berperan dalam
memotivasi semangat belajar
para peserta didik. Suatu
kondisi yang menyenangkan
apabila guru wali
dapat menunjukkan sikap yang
akrab, bersahabat dan memahami situasi di dalam kelas saat mengajar dan saat
ia di
luar kelas. Perilaku
guru seperti itu
dapat menunjang prestasi
belajar siswa.
Berdasarkan fakta yang
ada, masih ditemukan bahwa beberapa guru SMPN 8 Surakarta belum sepenuhnya memotivasi
siswa- siswinya karena kurangnya
komunikasi antarpribadi yang
dilakukan oleh guru wali dan muridnya. Komunikasi antarpribadi yang
dilakukan guru dan murid akan sangat
menunjang kegiatan belajar
mengajar disekolah. Komunukasi
guru dan murid kurang harmonis, sehingga terdapat kesalahpahaman antar guru
dengan peserta didik. Hal ini berdampak pada hasil belajar yang menurun.
Dari hasil penelitian
mengenai proses komunkasi
yang telah dilakukan
oleh guru wali dan
siswanya itu dapat
di ketahui bahwa
mereka dominan menggunakan
Oral
Communication atau bisa
disebut berkomunikasi dengan
mulut. Namun dalam
proses belajar mengajar untuk meningkatkan
pengetahuan anak didik
mereka masing- masing dapat
dibedakan proses komunikasi yang mereka lakukan antara bentuk komunikasi verbal
maupun nonverbal. Dari keseluruhan guru atau pengajar yang diteliti oleh
peneliti bahwa para pengajar lebih
banyak menggunakan komunikasi
verbal dan diselingi
juga oleh komunikasi nonverbal.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis mengambil judul skripsi
”Pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta.”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan
Latar Belakang Masalah di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai
berikut:
a. Beberapa
guru SMPN 8 Surakarta belum sepenuhnya memotivasi siswa- siswinya didalam belajar.
b.
Kurangnya komunikasi
antarpribadi yang dilakukan oleh guru wali dan muridnya di SMPN
8 Surakarta.
c. Komunikasi guru dan murid kurang harmonis, sehingga terdapat
kesalahpahaman antar guru dengan peserta didik.
d. Menurunnya
pretasi belajar siswa SMPN 8 Surakarta yang disebabkan karena guru kurang
memberikan motivasi belajar terhadap muridnya
e.
Ada
oknum wali kelas yang acuh tak acuh terhadap perkembangan belajar dan masalah
murid dalam kelas.
f. Adanya
konflik antar guru wali kelas dengan murid yang tidak terselesaikan, sehingga
sangat mempengaruhi semangat belajar siswa.
g.
Kurangnya
pemahaman pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta.
C. Batasan Masalah
C. Batasan Masalah
a. Komunikasi guru dan murid kurang
harmonis, sehingga terdapat kesalahpahaman antar guru dengan peserta didik.
b. Menurunnya pretasi belajar siswa di
SMPN 8 Surakarta
c. Kurangnya pemahaman pengaruh komunikasi
guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta.
D. Rumusan Masalah
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi perhatian dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana komunikasi
guru dan murid di SMPN 8 Surakarta?
2.
Bagaimana pretasi
belajar siswa di SMPN 8 Surakarta?
3.
Bagaimana pengaruh komunikasi
guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta?
E. Tujuan Penelitian
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mencapai tujuan yang
berkaitan dengan permasalahan yang telah dirumuskan. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mendapat gambaran tentang :
1.
Bagaimana komunikasi
guru dan murid di SMPN 8 Surakarta?
2.
Bagaimana pretasi
belajar siswa di SMPN 8 Surakarta?
3.
Bagaimana pengaruh
komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8 Surakarta.
F. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat yang
diharapkan oleh penulis dalam penelitian ini adalah
1. Bagi Peneliti
Dengan penelitian
ini, penulis mendapat wacana yang baru
mengenai pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa SMPN 8
Surakarta.
2. Bagi Sekolah
Penelitian ini memberi
wacana bagi Sekolah dalam peningkatan
mutu belajar secara khusus pengaruh komunikasi guru terhadap prestasi siswa
SMPN 8 Surakarta
3.
Bagi Akademisi
Bagi akademis dapat
menjadi suatu referensi yang bermanfaat
untuk penelitian-penelitian selanjutnya terkait dengan pengaruh
komunikasi guru terhadap peningkatan
prestasi siswa di Sekolah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar